Hal Ini yang Bikin Laki-Laki Cepat ‘Hancur’ Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa akan datang masa di mana kehancuran seseorang justru datang dari orang-orang terdekatnya. Hal ini tergambar dalam sabda beliau: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ هَلَ
Kultum
D
doolman
3 Mei 2026
3 menit baca
0 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاء...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
اَللّٰهُ تَعَالَى يَقُوْلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ (١) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيْدٌ (٢).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, hadirin sekalian yang berbahagia dan dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.
Ada sebuah pantun sederhana untuk memecah kebekuan hati:
Burung nuri terbang ke rimba,
Mencari makan di pagi hari.
Jika beban terasa berat di dada,
Ingatlah Allah, janganlah ingkari.
Saudaraku, hari ini kita akan merenungi sebuah realita yang seringkali luput dari perhatian kita, namun dampaknya bisa sangat meruntuhkan. Sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingatkan kita tentang potensi kehancuran yang datang bukan dari musuh di luar, melainkan dari orang-orang terdekat di dalam lingkaran kehidupan kita sendiri.
Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ هَلَاكُ الرَّجُلِ عَلَى يَدِ زَوْجَتِهِ وَأَبَوَيْهِ وَوَلَدِهِ، يُعَيِّرُونَهُ بِالْفَقْرِ، وَيُكَلِّفُونَهُ مَا لَا يُطِيقُ، فَيَدْخُلُ الْمَدَاخِلَ الَّتِي يَذْهَبُ فِيهَا دِينُهُ فَيَهْلِكُ
“Akan datang pada manusia suatu masa di mana kehancuran seorang lelaki datang dari tangan istrinya, kedua orang tuanya, dan anak-anaknya. Mereka mencelanya karena kemiskinannya, membebaninya dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya, sehingga ia terjerumus ke dalam jalan-jalan yang merusak agamanya, lalu ia pun hancur.”
Subhanallah, hadirin. Betapa pedihnya kenyataan ini. Di abad ini, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kalimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terasa begitu dekat, begitu nyata. Banyak dari kita, para lelaki, yang mungkin merasakan tekanan luar biasa dari keluarga sendiri. Tuntutan materi yang semakin tinggi, keinginan untuk mempertahankan gengsi atau standar hidup yang terus meroket, namun kemampuan yang tak sepadan.
Ketika seorang suami, ayah, atau anak melihat anggota keluarganya menuntut lebih, mencibir kekurangannya, membandingkan dengan orang lain, dan terus-menerus membebani dengan harapan yang melampaui batas kemampuannya, apa yang terjadi? Jiwa yang lelah, hati yang tertekan, ditambah lagi dorongan untuk membahagiakan orang yang dicinta. Akhirnya, tanpa disadari, ia mulai membuka pintu-pintu yang seharusnya terkunci rapat. Jalan pintas yang diharamkan, bisnis yang meragukan, bahkan mungkin hal-hal yang jelas-jelas melanggar syariat, mulai dijalani demi memenuhi tuntutan tersebut. Perlahan tapi pasti, agamanya perlahan terkikis, iman mulai goyah, dan ia pun terjerumus dalam jurang kehancuran, baik dunia maupun akhirat.
Ini bukan tentang menyalahkan keluarga, tidak sama sekali. Namun, ini adalah peringatan agar kita semua, baik laki-laki maupun anggota keluarganya, memiliki pemahaman yang benar tentang tanggung jawab, rezeki, dan kesabaran. Betapa banyak hadits yang mengingatkan kita akan hal ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang lain, menggambarkan kondisi di akhir zaman:
خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ الْخَفِيفُ الْحَاذِ الَّذِي لَا أَهْلَ لَهُ وَلَا وَلَدَ
“Manusia terbaik (di masa tertentu) adalah yang ringan bebannya, tidak memiliki keluarga dan anak.”
Dan juga:
قِلَّةُ الْعِيَالِ أَحَدُ الْيَسَارَيْنِ، وَكَثْرَتُهُمْ أَحَدُ الْفَقْرَيْنِ
“Sedikit tanggungan (keluarga dan anak) adalah salah satu bentuk kemudahan, dan banyaknya tanggungan adalah salah satu bentuk kesulitan.”
Bahkan seorang ulama zuhud yang mulia, Abu Sulaiman ad-Darani, pernah berkata dengan sangat tajam namun penuh makna:
الصَّبْرُ عَنْهُنَّ خَيْرٌ مِنَ الصَّبْرِ عَلَيْهِنَّ، وَالصَّبْرُ عَلَيْهِنَّ خَيْرٌ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى النَّارِ
"Bersabar dari (tidak menikah) lebih baik daripada bersabar atasnya (saat menikah). Dan bersabar atasnya (saat menikah) lebih baik daripada bersabar atas api neraka."
Perkataan ini bukan berarti merendahkan pernikahan atau wanita, tetapi menyinggung betapa beratnya tuntutan dan ujian yang bisa datang dari sebuah pernikahan dan keluarga.
Hadirin yang dirahmati Allah.
Mari kita introspeksi diri. Apakah kita sedang terdesak oleh keadaan, sehingga berani melanggar syariat? Apakah kita terlalu mengikuti hawa nafsu duniawi, yang justru membahayakan iman kita?
Ajakan amalnya adalah:
Pertama, mari kita sebagai kepala rumah tangga, terus berikhtiar semaksimal mungkin mencari rezeki yang halal. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam godaan syubhat apalagi haram demi memenuhi tuntutan dunia.
Kedua, bagi para istri dan anak-anak, mari kita pelajari arti kesabaran, kecukupan, dan rasa syukur. Redupkan keinginan yang berlebihan, dan dukunglah suami, ayah, atau anak kita dalam beribadah dan menjaga marwah agamanya. Ingat, surga itu lebih berharga dari segala kemewahan dunia.
Ya Allah, lindungilah kami dari kehancuran yang datang dari diri kami sendiri dan dari orang-orang terdekat kami. Berikanlah kekuatan kepada para lelaki untuk senantiasa menjaga agama dan kehormatan mereka dalam setiap keadaan dan ujian. Berikanlah kami rezeki yang halal lagi berkah, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu dari selain diri-Mu.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.